You Are Reading

Agar Tumbuhan jauh dari hama

Unknown Kamis, 27 Desember 2012
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan pada lahan murbei milik petani di Kabupaten Bogor, yang dilakukan oleh Balai Persuteraan Alam di Bili-Bili Sulawesi Selatan, ditemukan adanya hama pucukGlyphodes pulverulentalis sedangkan dan penyakit pada ulat sutera yang disebabkan oleh virus NPV (Nuclear Polyhedrosis Virus). Untuk pengendaliannya petani disarankan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Hama pucuk dapat dikendalikan secara mekanis yaitu dengan memangkas cabang-cabang yang terserang hama dan cabang tersebut dieradikasi melalui pembakaran serta dengan mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat. Jika serangan hama sudah hampir melebihi ambang ekonomi maka dapat dilakukan pengendalian menggunakan pestisida dengan residual toksisitas singkat.

2. Virus NPV pada ulat sutera dapat dikendalikan dengan memperhatikan faktor sanitasi tempat pemeliharaan dan alat-alat pemeliharaan, oleh karena itu sebaiknya sebelum memelihara ulat, petani melakukan desinfeksi ruangan dan alat pemeliharaan dengan menggunakan kaporit sebagai bahan desinfektan. Kaporit tersebut dilarutkan 200 kali (5 gram kaporit per liter iaru), disemprotkan sampai basah dan merata pada ruangan dan alat, denan volume 1 - 2 liter per m2, desinfeksi ruangan dan alat dilaksanakan 2 -3 hari sebelum pemeliharaan dimulai dan pada saat masa pemeliharaan segera memisahkan ulat sakit dengan gejala:

- Kulit ulat akan membengkak.
- Ulat bergerak mengelilingi tempat pemeliharaan.
- Kulit ulat mudah terluka.
- Ulat membentuk kokon yang lembek dan kemudian mati.

Berkaitan dengan hasil pengamatan hama dan penyakit tanaman murbei dan ulat sutera yang telah dilakukan petugas dan balai pesuteraan alam pada bulan Mei 2012 milik petani di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan pengujian yang dilakukan di Laboratorium hama dan penyakit BPA hama tanaman yang ditemukan pada lahan murbei milik petani adalah kutu kebul/white fly (bernisia tabacci), hama pucuk (Glyphodes pulverulentalls), penggerek batang (Epepeotes plarator) sedangkan dari penyakit tanaman yaitu karat daun murbei (Aecidium mori) dan bercak daun (Septogloeum mori). Sedangkan dari sampel ulat yang diperoleh terdapat 5 (lima) ekor ulat sutera yang terserang cendawan Muscardine.

Berdasarkan hal tersebut, maka untuk pengendalian oleh petani bersama ini di sarankan hal-hal sebagai berikut :

1.Penyakit karat dan bercak daun murbei dapat dikendalikan dengan cara memetik bagian-bagian yang terserang dan memusnahkannya (Eradikasi) agar spora cendawan tidak menyebar pada tanaman lain serta mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat.

2.Hama pucuk dapat dikendalikan secara mekanis yaitu dengan memangkas cabang-cabang tang terserang hama dan cabang tersebut dieradikasi melalui pembakaran serta mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat.

3.Kutu Kebul dapat mensekresi embun madu yang kemudian dapat menjadi media tumbuh cendawan jelaga(Capnodium) dengan miselium berwarna hitam. Hama ini dapat dikendalikan dengan cara menjaga sanitasi kebun agar bebas dari tanaman lain yang dapat menjadi inang kutu kebul seperti tomat, cabai, atau gulma. Selain itu dapat memasang sticky trapyaitu perangkap likat berwarna kuning pada area perkebunan.

4.Cendawan Muscardine dapat dikendalikan dengan cara:
- Membersihkan alat-alat pengokonan dan menjemurnya 
- Ruangan dan alat-alat pemeliharaan didesinfeksi dengan kaporit dan ditaburi kapur
- Desinfeksi tubuh ulat
- Menjaga kondisi ruangan pemeliharaan dengan pertukaran udara yang baik
- Pemberian daun yang kering dan segar.

Berkaitan dengan hasil pengamatan hama dan penyakit tanaman murbei dan ulat sutera yang telah dilakukan petugas dari balai pesuteraan alam pada bulan Mei 2012 milik petani di Kabupaten Bandung tepatnya di Kecamatan Pengalengan, Berdasarkan pengujian yang dilakukan di laboratorium hama dan penyakit BPA penyakit tanaman yang ditemukan pada lahan murbei milik petani adalah penyakit karat daun murbei (Aecidium mori). Pengendalian penyakit karat daun murbei dapat dilakukan dengan cara memetik bagian-bagian yang terserang dan memusnahkannya (eradikasi) agar spora  cendawan tidak menyebar pada tanaman lain serta mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat.
Comments
0 Comments
 
Copyright 2012 MAU TAU BANGET ??